Blog Psikologi Tips dan Trik

Merasa Social Media Telah Menjadi Toxic? Atasi dengan Cara Ini!

Merasa Social Media Telah Menjadi Toxic? Atasi dengan Cara Ini! 1
Ditulis oleh atap

Edutore.com – Rasanya hampir setiap dari kita memiliki satu akun sosial media, bahkan mungkin lebih dari satu dan dipantau hampir setiap waktu. Tidak sedikit juga yang menyempatkan main handphone saat makan, belajar bahkan hingga mengganggu jam tidurmu edufriends? Apakah kamu termasuk diantara orang yang tidak bisa absen scrolling linimasa sosmed setiap saat? Hati-hati. Meski tujuan awalnya memang untuk update info terbaru, melihat deretan postingan di layar ponsel lama-lama dapat menggerogoti batinmu lho. Berbagai penelitian telah melaporkan bahwa penggunaan sosmed dalam jangka panjang dapat mengubah pola pikir dan mengganggu kesehatan mentalmu. Di balik semua keindahan foto dan keseruan cerita orang di dunia maya, penggunaan media sosial dalam jangka panjang akan berdampak negatif bagi kesehatanmu.

Merasa Social Media Telah Menjadi Toxic? Atasi dengan Cara Ini! 2

Penggunaan media sosial yang terlalu aktif dapat meninggalkan jejak tidak hanya pada kesehatan mental, tetapi juga pada kesehatan fisik, terutama dengan mengubah pola tidur. Sebuah studi tahun 2014 terhadap orang-orang dewasa di Amerika Serikat berusia 19–32, menemukan bahwa peserta memeriksa akun media sosial pilihan mereka selama lebih dari satu jam per hari, dan sekitar 30 kali per minggu. 57% dari pengguna ini juga melaporkan mereka mengalami gangguan tidur. Para peneliti menyarankan bahwa alasan di balik mengapa pengguna media sosial mengalami tidur yang buruk adalah Fakta bahwa mereka merasa terdorong untuk aktif di situs web semua jam, termasuk larut malam edufriends.

Sosial media juga menurunkan produktivitasmu. Sebuah makalah penelitian yang diterbitkan tahun lalu dalam Journal of Applied Social Psychology menyatakan kita telah menghabiskan lebih banyak waktu di jejaring media sosial daripada yang kita sadari,hal ini kemudian membuang salah satu sumber daya paling berharga dalam hidup: waktu. Peneliti menemukan bukti, bahwa rangsangan terkait internet dan Facebook dapat mendistorsi persepsi waktu karena adanya mekanisme terkait perhatian dan rangsangan. Laporan menunjukkan bahwa bahkan ketika kita sedang bekerja, tanpa sadar kita masih melihat layar ponsel untuk memeriksa jumlah “like” dan komentar terbaru, meskipun tahu hal ini tidak seharusnya dilakukan. Satu set data juga menemukan bahwa karyawan menghabiskan waktu kurang lebih 2,35 jam per hari, dan rata-rata mengakses akun media sosial mereka di tempat kerja edufriends.

Akibat buruk penggunaan sosial media yang terus menerus lainnya adalah peningkatan risiko depresi, insomnia, citra diri (body image) yang buruk, penurunan kepercayaan diri, gangguan kecemasan dan gangguan makan, hingga perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm). Semua resiko ini diduga kuat muncul sebagai wujud nyata dari kecenderungan alam bawah sadar kita yang jadi suka membandingkan diri dengan kehidupan orang lain sehingga tidak menikmati hidup. Teori ini pernah dijelaskan dalam studi berjudul Online Social Networking and Mental Health yang dimuat dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking. Apakah social media juga telah menjadi toxic di dalam hidupmu? Berikut beberapa tandanya yang perku kamu ketahui edufriends.

 

BUDAK KONTEN

Jika berada di level ini, kamu akan melakukan segalanya hanya demi konten. Memaksakan membeli ini dan itu demi konten, atau jajan demi konten, atau liburan demi konten, atau bersalto ria saat lampu hijau di lampur merah jalan demi konten, semua kamu lakukan demi konten hingga melupakan batasan-batasan norma yang ada, bahkan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal ekstrem hanya demi konten. Lebih parah lagi jika sampai berhutang demi terlihat keren di media sosial.

 

MELUPAKAN DUNIA NYATA

Meski telah menjadi bagian hidup sehari-hari, pengguna media sosial seringkali membuatmu lupa membangun hubungan dengan orang-orang di kehidupan nyata. Efek negatif yang sama juga terjadi ketika seseorang sudah terlalu fokus pada media sosial dan menempatkannya pada posisi yang lebih penting dari hal lainnya. Contohnya ketika seseorang sudah sangat cemas jika mengunggah foto yang dirasa kurang cantik, atau lebih mementingkan update foto di Instagram dibanding menikmati liburan. Kamu juga selalu mengecek ponsel setiap waktu hanya untuk melihat linimasa atau notifikasi sosial media. Tak peduli waktu dan tempat, saat kerja, makan, hang out bersama teman, nonton film, kamu terus saja mengecek HP secara berkali-kali edufriends.

 

MENJADIKAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI PELARIAN

Apakah kamu termasuk tipe orang yang sering mengumbar masalah di medsos dan menjadikan akun media sosial sebagai tempat untuk “nyampah” secara berlebihan? Hati-hati, karena hal tersebut bisa berbahaya bila tidak segera dihentikan atau dibiarkan begitu saja. Selain membuat orang lain merasa tidak nyaman, kebiasaan tersebut tentu saja tidak menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi. Alih-alih mendapatkan penyelesaian, mungkin yang ada masalah menjadi semakin kompleks atau muncul masalah baru lainnya.

 

MEMBANDINGKAN DIRI DENGAN ORANG LAIN

Terus membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Hal ini biasanya disebabkan karena mengikuti seorang influencer atau public figure dengan kehidupan yang “tampak” sempurna di media sosial. Padahal semua orang pasti memiliki masalahnya sendiri, bahkan mungkin yang lebih berat dibanding yang kita alami. Setelah scrolling timeline di media sosial mungkin seseorang hanya melihat sisi bahagianya saja, sehingga mulai membandingkan dengan kondisi diri sendiri yang sedang menghadapi masalah, tanpa memperhitungkan kelebihan dan nikmat apa yang sudah dimiliki, yang mungkin belum tentu juga dapat dimiliki oleh orang lain.

 

RENDAH DIRI

Insecure adalah salah satu efek negatif yang dapat ditimbulkan oleh media sosial bila tidak digunakan secara  bijak. Perasaan tersebut biasanya terlihat saat seseorang sudah mulai mudah curiga, seperti mendadak menjadi drama queen, mudah tersinggung, hingga merasa tidak percaya diri dengan kondisi tubuhnya. Di media sosial, kita tidak bisa membatasi komentar orang lain yang mungkin akan menyakiti perasaan kita. Karenanya, yang bisa dilakukan untuk mencegah rasa insecure adalah dengan tidak perlu memedulikan pendapat negatif mereka di media sosial.

 

HOBI STALKING MEDSOS

Bagi orang yang terlalu aktif di medsos, stalking akun sosmed orang lain dapat menjadi salah satu kebiasaannya. Namun ternyata efeknya justru dapat memunculkan persaingan yang pada akhirnya membuatmu merasa kesepian. Selain itu, kamu juga jadi lebih banyak tahu tentang kehidupan orang melalui akun sosmed-nya dibanding kehidupan orang terdekatmu. Jika hobimu ini sudah masuk dalam tahap membahayakan, mungkin sudah waktunya kamu melakukan detox media social edufriends.

 

SINDROM NOMOPHOBIA

Nomophobia merupakan sindrom ketakutan yang terjadi jika kamu tidak memiliki smartphone. Kamu merasa smartphone merupakan benda yang wajib ada di dekatmu selama 24 jam. Kamu merasa gelisah, khawatir, dan bingung ketika ponsel kesayanganmu tidak ada. Seolah dalam kamus hidupmu benda tersebut wajib ada dan tidak boleh ketinggalan, sekalipun ke WC atau toilet. Jika kamu merasakan hal tersebut, itu berarti kamu sudah waktunya melakukan detox media sosial demi kondisi psikologis yang lebih sehat edufriends.

 

SOCIAL MEDIA DETOX

Untuk yang merasa sudah lelah dengan dunia maya break sejenak atau selama mungkin untuk restart kembali, seperti kelelahan fisik yang kita rasakan setelah sekian lama bekerja dan kurang liburan, baiknya rehat sejenak dari hiruk pikuk untuk merefresh pikiran. Lakukan social media detox. Apa itu social media detox, pengertian sederhanya adalah semacam healing diri sendiri dengan cara menjauh dari sosial media guna menenangkan pikiran  untuk kesehatan mental akibat terpapar dampak negatif sosial media. Salah satu cara melakukan sosial media detox adalah break sejenak dari dunia maya. Berikut beberapa tips yang dapat kamu lakukan. Check these out!

 

JAUHKAN SMARTPHONE DARI JANGKAUAN

Memulai detoks sosmed memang tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi jika kamu memiliki banyak waktu luang. Namun begitu segera jauhkan ponsel atau gawai elektronik lainnya dari jangkauan. Terutama jika kamu sedang tidak punya banyak aktivitas. Segeralah “isi” tangan kosong dengan kegiatan lain agar tidak melulu terpikir meraih handphone. Jauhkan juga ponsel dari jangkauan tangan dan ubah ke mode sunyi atau getar ketika sedang belajar. Cara Ini memudahkanmu untuk lebih fokus menyelesaikan tugas dengan lebih efisien.

 

BUAT ALARM BATASI SOCMED

Cara paling efisien untuk detoks sosmed adalah dengan membatasi waktu mengaksesnya. Batasan wajar menggunakan media sosial menurut psikolog adalah 30 menit hingga satu jam per hari. Kamu bisa membagi total 1 jam tersebut dalam beberapa “sesi” untuk seharian. Misalnya, 15 menit di pagi hari, 15 menit saat makan siang, 15 menit saat perjalanan pulang di angkutan umum, dan 15 menit saat makan malam. Agar tidak kebablasan, ingatkan diri sendiri untuk logout dari akun-akun sosmed dengan pasang alarm. Ada banyak juga aplikasi yang bisa membantu mengingatkanmu ketika sudah mencapai batas waktu yang ditetapkan. Sebaiknya hindari mengakses media sosial saat menjelang tidur, karena bisa mengganggu kuantitas dan kualitas tidurmu edufriends.

Merasa Social Media Telah Menjadi Toxic? Atasi dengan Cara Ini! 3

MATIKAN NOTIFIKASI SOSIAL MEDIA

Matikan notifikasi semua media social agar tidak sebentar-sebentar tergoda cek hape untuk melihat update terbaru. Kecuali memang akun tersebut digunakan untuk kebutuhan bekerja. Bila perlu, atur aplikasi apa saja yang dipasang di tampilan depan handphone. Usahakan pasang yang hanya diperlukan saja edufriends.

 

SULITKAN AKSES SOSIAL MEDIA

Buat akses media sosial sedikit ribet sebab jika kamu memasang aplikasi media sosial di tampilan muka smartphone akan membuatmu dengan terlalu mudah mengakses social media. Coba hapus beberapa shortcut (jalan pintas) akses langsung ke beberapa media sosial tersebut. Lalu, buat satu folder khusus di telepon pintar untuk wadah beberapa aplikasi media sosial. Dengan begitu, kamu memerlukan beberapa langkah mengetuk dan menggulir layar sebelum bisa mengaksesnya edufriends.

 

AREA BEBAS HANDPHONE

Meski terdengar konyol, tidak ada salahnya mencoba cara ini. Kamu bisa tentukan sendiri area mana saja di rumah yang tidak diperbolehkan membawa apalagi bermain smartphone. Misalnya, di ruang TV atau ruang makan agar fokus berkumpul bersama keluarga, atau di kamar tidur untuk melepaskan diri dari kebiasaan bermain handphone sebelum tidur hingga menganggu jam tidurmu yang seharusnya edufriends.

 

HARI TANPA SOSIAL MEDIA

Tentukan satu hari dalam seminggu untuk momen “sehari tanpa media sosial”. Misalnya hari Minggu, sehingga kamu bisa menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama teman atau keluarga, juga melakukan hobi yang disukai.

 

DIGITAL DETOX RETREAT

Mencoba digital-detox retreat. Cobalah liburan khusus digital detox yang ditemukan oleh Tanya Goodin, seorang entrepreneur digital yang melihat efek screen dominated life pada kesehatan. Retreat ini tidak memperbolehkan segala hal yang berhubungan dengan teknologi. Menggantikan hal tersebut, kamu dapat menikmati mindfulness workshop, yoga, hiking, menerbangkan layangan, dan storytelling. Mereka juga menyajikan raw food dan melarang alkohol, sehingga kehidupanmu akan di-reset total. Jika lebih menyukai petualangan daripada wellness retreat, maka kamu hanya perlu ‘fly under the radar’. Suatu tempat dimaana tidak terdapat koneksi WiFi maupun sinyal telepon sama sekali untukmu dapat menikmati waktu dengan sebaik-baiknya tanpa koneksi smartphone sama sekali.

 

GANTI PLATFORM

Sudah tak nyaman bermain sosial media tapi belum bisa lepas 100%. Solusinya ganti platform yang lebih bermanfaat. Gantilah platform sosmed yang pamer ide. Misal membuat podcast yang dapat di posting di Soundcloud atau Spotify, atau membuat konten youtube yang jika mendapatkan banyak views, dapat kamu monetisasi dan menghasilkan.

 

KONTROL DIRI DENGAN SEBAIKNYA

Poinnya adalah kontrol diri sendiri. Jika saat ini mungkin masih menikmati melakukakn unggahan pribadi ke dunia maya sah saja namun yang perlu diperhatikan adalah isi postingan. Unggah lah dengan bijak karena jejak digital akan selamanya terpatri. Jika kita sendiri bisa menghapus namun kita tak bisa mengnontrol orang lain untuk mengunduh foto, video kita atau screenshot postingan kita yang di masa yang depan bisa menjadi boomerang untuk diri kita.

 

MENGATUR KEMBALI PIKIRAN

Banyak orang yang telah membuktikan keuntungan meditasi. Pentingnya mengambil waktu untuk kembali memusatkan pikiran bahkan lebih penting dari meng-update kehidupan sosial bergantung pada konektivitas. Jika menghabiskan waktu seharian di depan komputer, sempatkan waktu bersantai secara berkala dengan duduk atau berjalan sebentar. Jika benar-benar tidak dapat meninggalkan meja, coba log in ke Do Nothing for 2 Minutes.  Halaman website ini akan memintamu untuk berkonsentrasi pada seascape yang menenangkan, dan jika menggerakan mouse atau mencoba mengetik, timer akan kembali terulang. Website ini memang tidak akan membantumu terhindar dari problem mata yang terus menatap ke layar, namun tentu berguna untuk menenangkan pikiran. Kamu dapat mensiasati dengan menutup mata dan hanya mendengarkan suara deburan ombak.

 

TETAPKAN ATURAN

Pada akhirnya, semua tergantung pada pilihanmu. Berinvestasi pada alarm tradisional dan meniadakan ponsel dari ruangan kamar semalaman dapat menghindarkanmu dari scrolling sebelum tidur maupun saat bangun. Jangan lupa memberlakukan larangan teknologi pada beberapa waktu di kehidupan, mute percakapan Whatsapp, serta mematikan email alert dan merespon hanya pada waktu tertentu. Ingat bahwa tidak akan banyak hal yang terjadi saat kamu menjauh dari media sosial. Lebih banyak membaca, pergi berjalan-jalan, dan mencari hobi baru akan menjadi sebuah keuntungan yang akan segera kamu rasakan edufriends.

Merasa Social Media Telah Menjadi Toxic? Atasi dengan Cara Ini! 4

Dari sekian banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaan media sosial, perlu diwaspadai bila yang kamu rasakan setelah menggunakan media sosial adalah perasaan cemas berlebihan. Bila anxiety telah melanda akibat hal-hal negatif yang kamu terima dari penggunaan media sosial, kamu sebaiknya perlu mewaspadainya dan mulai melakukan detoks media sosial. Selain untuk melepas ketergantungan, kamu juga perlu lebih banyak fokus membangun hubungan baik di kehidupan nyata Edufriends. Selamat mencoba!

 

EDUTORE

Gramedia mengembangkan platform edukasi bernama Edutore. Pada platform ini kamu bisa mengakses banyak buku latihan soal seperti yang ada di gramedia dengan cara berlangganan. Edutore memiliki sloggan “Semua Bisa Pintar” dan itu pula yang menjadi cita-cita Edutore. Sehingga Edutore bisa berperan serta dalam mencerdaskan anak-anak Indonesia. Di Channel Youtube Edutore dibahas bermacam-macam mulai dari pengetahuan umum yang unik seperti “Kenapa lampu rem berwarna merah”, belajar bahasa inggris bersama captain J, sampai dengan belajar bareng edutore yang berisi pembahasan soal seperti soal CPNS sinonim, antonim, dan lainnya. Cek langsung akun youtubenya, klik disini.

Sumber: dari berbagai sumber