Sosial Budaya

10 Bangunan Sejarah Indonesia yang Wajib Edufriends Kunjungi (Bagian 1)

10 Bangunan Sejarah Indonesia yang Wajib Edufriends Kunjungi (Bagian 1) 1
Ditulis oleh Feby

Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku, bahasa, dan budayanya. Seperti yang Edufriends ketahui, negeri ini memiliki sejarah panjang mulai dari masa kejayaan dinasti di masa lampau sampai perjuangan rakyat merebut kemerdekaan.  Oleh karena itu tidak mengherankan jika Indonesia memiliki banyak sekali peninggalan bersejarah yang memiliki nilai historis, budaya, ilmu pengetahuan, dan seni yang sangat tinggi.  Kali ini Eduteam akan membahas 20  bangunan bersejarah di Indonesia yang wajib Edufriends kunjungi untuk berwisata dan juga memahami sejarah Indonesia. yuk simak ulasannya!

1. Candi Prambanan

Candi Prambanan merupakan salah satu candi yang terkenal di kalangan masyarakat Indonesia terutama di pulau Jawa. Candi yang terletak di Jl. Raya Solo – Yogyakarta Nomor 16, Kranggan, Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu merupakan candi yang terkenal dengan legendanya. Candi Prambanan sendiri dibangun pada abad ke-9 masehi. Pembuatan Candi Prambanan diketahui sebagai persembahan pada tiga dewa utama Hindu atau Trimurti yang terdiri dari Brahma, Wishnu, dan Siwa. Menurut prasasti Siwagrha, Candi Prambanan mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan. Pembangunan candi itu lantas dikembangkan serta diperluas oleh Balitung Maha Sambu pada masa kerajaan Medang Mataram. Pembangunan awal itu terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya seperti raja Daksa dan Tulodong. Pembangunan itu terus diperluas hingga ada ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama. Pada masa kejayaannya, Candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung dimana berbagai upacara penting digelar. Selain itu, ratusan pendeta dan muridnya berkumpul di Candi Prambanan dalam rangka mempelajari kitab Weda dan melaksanakan ritual.

Candi Prambanan dikenal sangat kental dengan legenda kisah cinta Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Legenda tersebut menceritakan kisah cinta tak sampai akibat kegagalan memenuhi syarat yang mustahil. Semua berawal saat dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Prambanan yang rakyatnya hidup tentram. Namun, suatu hari kerajaan Prambanan diserang oleh negeri Pengging. Ketentramannya pun terganggu. Kerajaan Pengging ternyata memiliki seorang pangeran yang sakti mandraguna bernama Bandung Bondowoso. Saking saktinya Bandung Bondowoso bahkan memiliki pasukan dari jenis jin menyerang Prambanan. Prambanan yang tak punya persiapan apapun akhirnya kalang kabut dan tak berhasil menyelamatkan wilayahnya. Raja Baka yang turun berperang secara langsung memimpin pasukan  Prambanan pun tewas dalam perang tersebut. Usai perang berakhir, Bandung Bondowoso menempati istana Prambanan. Singkat cerita, Bandung Bondowoso kemudian jatuh cinta pada putri negeri Prambanan, Roro Jonggrang karena kecantikannya.

Bandung Bondowoso pun meminang Roro Jonggrang sebagai istrinya. Namun, pernyataan Bandung Bondowoso itu justru membuat Roro Jonggrang bimbang karena dipinang oleh orang yang membunuh sang ayah saat peperangan. Roro Jonggrang pun mendapatkan ide agar Bandung Bondowoso gagal menikahinya. Roro Jonggrang akhirnya mengajukan sebuah syarat berat pada Bandung Bondowoso. Ia meminta dibangunkan seribu candi dan dua buah sumur dalam satu malam. Bandung Bondowoso yang mendengar syarat itu pun menyanggupinya. Ia merasa percaya diri karena memiliki bala tentara jin. Pada malam hari, Bandung Bondowoso pun mengumpulkan bala tentaranya dan memerintahkan mereka untuk membuat permintaan Roro Jonggrang. Bala tentara itu melakukan pekerjaan dengan sangat cepat. Mengetahui hal itu, Roro Jonggrang pun panik dan mencari ide lain untuk menggagalkan Bandung Bondowoso.

Roro Jonggrang akhirnya membuat tipuan curang dengan membuat seolah-olah suasana telah pagi hari. Ia mengumpulkan para dayang agar membakar jerami dan membunyikan lesung dan menaburkan bunga agar berbau wangi. Bau wangi dari bunga itulah yang kemudian membuat ayam berkokok dan semakin meyakinkan suasana telah pagi. Langit yang terlihat kemerahan akibat bakaran jerami bunyi lesung dan ayam berkokok pun membuat bala tentara Bandung Bondowoso pergi karena menyangka telah pagi. Melihat kepergian bala tentaranya Bandung Bondowoso pun marah. Namun, Bandung Bondowoso tak lagi didengar dan bala tentaranya tetap pergi. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat Roro Jonggrang. Melihat hal tersebut, Roro Jonggrang pun bahagia dan mengatakan jika Bandung Bondowoso gagal memenuhi syaratnya. Mendengar ucapan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso semakin marah karena merasa dicurangi. Ia pun mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca yang ke seribu dan menyempurnakan candi seribu. Dengan kesaktiannya kutukan Bandung Bondowoso itu pun terjadi.

Sama seperti situs bersejarah lainnya Candi Prambanan juga menyimpan berbagai mitos yang kental. Uniknya, mitos di Candi Prambanan salah satunya berkaitan dengan kepercayaan perihal asmara pengunjung yang datang berkunjung. Sudah jadi rahasia umum, jika Candi Prambanan terkenal dengan mitos hubungan cinta Bandung Bondowoso yang kandas. Maka dari itu, ada mitos barang siapapun pasangan kekasih yang bersama-sama memasuki ruangan Roro Jonggrang di Candi Prambanan dipercaya akan berpisah dalam kurun waktu beberapa hari.

2. Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di kota Magelang, provinsi Jawa Tengah. Candi Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia. Karena kemegahan dan keagungannya, candi yang dibangun pada abad ke-8 ini sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia (world heritage). Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku History of Java oleh Sir Thomas Raffles. Nama Bore-Budur, dalam tata bahasa Inggris untuk merujuk ke desa terdekat dengan kuil, yaitu Desa Bore (Boro). Sebagian besar candi sering dinamai desa tempat mereka berdiri. Raffles juga curiga bahwa kata Budur mungkin terkait dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti kuno yang berarti Boro kuno. Namun, arkeolog lain menganggap bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Candi Borobudur pun masih diliputi misteri, mengenai siapa pendiri candi Borobudur dan apa tujuan awalnya membangun candi ini. Banyak cerita dan kisah candi Borobudur beredar yang kini dikenal sebagai dongeng rakyat setempat. 

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan bahwa pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga. Candi Borobudur dibangun pada tahun 800 Masehi. Perkiraan waktu pembangunan candi didasarkan pada perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang umumnya digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Candi borobudur dibangun pada masa kerajaan dinasti Syailendra di Jawa Tengah yang bertepatan antara kurun waktu 760 sampai 830 Masehi. Pada masa itu agama Budha menjadi mayoritas agama di tanah jawa, maka Candi Borobudur pun tak lepas dari kegiatan keagamaan. Candi Borobudur menjadi pusat keguatan keagamaan terbesar baik di tanah air maupun dari berbagai kerajaan di sekitar nusantara. Namun lambat laun perkembangan Islam mulai masuk ke Nusantara. Masuknya pengaruh Islam ke Indonesia pada abad ke-15 membuat candi Borobudur mulai ditinggalkan oleh masyarakat yang berpindah ke agama Islam. Sempat ada beberapa waktu Borobudur terlupakan serta beberapa kali Borobudur semakin terlupakan saat terjadi letusan Gunung Merapi yang mengakibatkannya terkubur abu vulkanik. Hingga pada akhirnya ditemukan dan dilakukan pemugaran serta berbagai usaha rekontstruksi candi yang dimulai sejak saat penjajahan Inggris dan juga Belanda. Pemugaran candi dilakukan dengan memperhatikan banyak hal. Hal-hal yang dilakukan antara lain adalah perbaikan sistem drainase, pengaturan sudut bangunan, pemindahan batu yang membahayakan, penguatan pagar langkan pertama dan pemugaran beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Pada tahun 1900 Masehi, pemerintah Hindia Belanda mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini.

Sebelum seperti sekarang ini, Candi Borobudur pernah jadi tempat pemberontak melarikan diri, angker, dan meminta berkah.
Pada masa Sunan Pakubuwono I bertakhta di Kartasura, muncul pemberontakan yang dipimpin Ki Mas Dana di daerah Enta-Enta. Sunan memerintahkan Bupati Mataram, Ki Jayawinata, untuk memadamkan pemberontakan itu. Namun, balatentaranya kewalahan dan mundur ke Kartasura. Jayawinata melaporkan peristiwa itu kepada sunan. Sunan kembali mengutus orang kepercayaannya. Kali ini Bupati Kartasura, Pangeran Pringgalaya, yang diperintahkan untuk mengurus pemberontakan itu. “Tangkap Ki Mas Dana hidup-hidup!” perintah Sunan. Pertempuran terjadi. Banyak korban bergelimpangan. Pemberontakan berhasil dipadamkan. Namun, Ki Mas Dana melarikan diri ke Bukit Borobudur. Pringgalaya mengejarnya hingga tertangkap dan dibawa ke hadapan sunan untuk menerima hukuman yang kejam. Kisah itu diceritakan dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada abad ke-18. Di sana nama Borobudur disebut sebagai tempat pelarian.

3. Lawang Sewu

Lawang Sewu bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti “seribu pintu”. Sebutan sewu (seribu dalam bahasa Jawa), merupakan penggambaran masyarakat Semarang tentang banyaknya jumlah pintu yang dimiliki Lawang Sewu, meski dalam kenyataannya jumlah pintu yang ada tidak mencapai seribu, namun lebih tepatnya 429 buah lubang pintu. Namun Lawang Sewu memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar yang membuat jendela tersebut nampak seperti pintu.

Lawang Sewu mulai dibangun oleh Belanda pada 27 Februari 1904 dan rampung pada tahun 1907. Pada awalnya gedung ini berfungsi sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta milik Belanda dengan nama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappj atau disingkat NIS. Perusahaan inilah yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang, Surakarta dan Yogyakarta. Jalur pertama yang dibangun adalah Semarang Temanggung pada tahun 1867. Direksi NIS memercayakan perancangan gedung kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J.  Quendag. Keduanya berdomisili di Amsterdam. Semua proses perancangan bangunan dilakukan di Belanda. Setelah rancangan selesai, gambar-gambar rancangan tersebut kemudian dibawa ke Kota Semarang.

Kantor pusat NIS tersebut adalah sebuah bangunan besar dua lantai dengan bentuk menyerupai huruf “L”. Pembangunan kantor pusat NIS di Semarang karena adanya kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan banyak bangunan untuk publik dan perumahan akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi kolonial dan pertumbuhan usaha swasta. Lawang Sewu menjadi saksi bisu dari kelamnya masa penjajahan Belanda. Setelah ditinggal oleh NIS, bangunan ini sering difungsikan oleh penjajah Belanda dan Jepang sebagai penjara. Beberapa ruangan di bangunan ini bahkan disulap menjadi ruang tahanan yang menyiksa. Namanya saja sudah bisa membuat bulu kuduk berdiri, yakni Penjara Jongkok, Penjara Berdiri dan Ruang Penyiksaan.  Ruang Penjara Berdiri pada awalnya digunakan sebagai lokasi penampungan tahanan. Tahanan yang tertangkap dimasukkan ke dalam ruangan tersebut dalam kondisi yang berdesak-desakan. Hal ini memaksa mereka untuk selalu berdiri karena apabila mereka duduk, ruangan penjara akan terasa lebih sempit dan menyiksa. Tak sedikit dari para tahanan ini meninggal di ruangan ini karena kelelahan atau kekurangan oksigen. Penjara Jongkok lebih parah lagi. Berbeda dengan ruangan Penjara Berdiri, tahanan yang dimasukkan ke ruang Penjara Jongkok dipaksa untuk berdesak-desakan dalam keadaan berjongkok karena tinggi ruangan tak sampai satu setengah meter. Bisa dibayangkan seperti apa penderitaan para tahanan yang dimasukkan ke dalam ruangan ini.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Lawang Sewu menjadi saksi mata ketika berlangsungnya peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai dari tentara Jepang. Karena itulah Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor 650/50/1992 memutuskan bahwa Lawang Sewu dimasukkan dalam 102 bangunan kuno bersejarah di Kota Semarang yang wajib dilindungi. Lawang Sewu juga pernah digunakan sebagai kantor dari Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia atau yang sekarang dikenal sebagai PT. Kereta Api Indonesia. Meski pihak militer pemerintah Indonesia sempat mengambil alih gedung ini, saat ini kepengurusan Lawang Sewu kembali ke tangan PT. KAI.

Tak heran bila melihat sejarah kelam yang dimiliki Lawang Sewu membuat bangunan ini memiliki seribu cerita dengan unsur mistis. Mulai dari penggunaan Lawang Sewu sebagai penjara dan ruang penyiksaan tahanan, hingga pertempuran antara pejuang dan penjajah Jepang yang menewaskan banyak korban jiwa membuat warga Semarang beranggapan bahwa terdapat ribuan makhluk gaib, terutama pada bagian sumur tua, pintu utama, lorong-lorong, lorong penjara, ruang utama, serta ruang penyiksaan. Makhluk gaib yang tidak jarang disebut-disebut menghuni Lawang Sewu adalah kuntilanak, genderuwo, hantu berwujud para tentara Belanda, serdadu Jepang, dan hantu wanita Belanda. Tidak mengagetkan, lokasi yang dikatakan paling banyak penampakan adalah lorong penjara dan ruang penyiksaan. Walaupun kebenaran cerita tersebut masih dipertanyakan, sejarah di balik Lawang Sewu merupakan kisah yang tragis dan sedih.

4. Gedung Sate

Gedung Sate adalah kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Bangunan ini merupakan aset sejarah yang dikenal tidak hanya dalam skala nasional, tetapi juga internasional. Gedung Sate masih kokoh berdiri dan menjadi saksi perjalanan pemerintahan Jawa Barat menuju tercapainya masyarakat yang gemah ripah repeh rapih kerta raharja. Semula, gedung indah ini disebut Gedung Hebe, yang diserap dari singkatan GB atau Gouvernements Bedrijven. Peletakan batu pertama pebangunannya dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Wali kota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum pada 27 Juli 1920.n hingga kini lebih dikenal dengan sebutan Gedung Baru.

Pada Senin, 3 Desember 1945, terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha yang ditunggangi tentara Inggris dan Belanda. Tentara Gurkha merupakan orang-orang dari Nepal yang terkenal akan keberanian dan kekuatan fisiknya dalam berperang menggunakan pisau khas mereka, yaitu kukri. Akibat dari Perjanjian Damai yang dinamakan Perjanjian Sugauli pada 1816, tentara Gurkha kemudian menjadi tentara kontrak yang melayani Perusahaan Hindia Timur Britania. Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia mengalami suasana euforia. Di tengah suasana sukacita tersebut, Belanda ternyata belum bisa menerima kenyataan diusir dari Indonesia. Bersama Inggris, Belanda menghimpun kekuatan untuk dapat merebut sejumlah aset, salah satunya adalah Gedung Sate. Pertempuran pecah pada 3 Desember selama hampir 2 jam yang mengakibatkan gugurnya tujuh orang pemuda. Lima jenazah ditemukan, dua jenazah lagi tidak ditemukan. Lima orang pemuda yang jasadnya ditemukan pada peristiwa mempertahankan Gedung Sate tersebut bernama Muchtarudin, Suhodo, Susilo, dan dua lagi tidak diketahui namanya. Sementara itu dua orang yang tidak ditemukan jenazahnya diyakini bernama Rana dan Rengat. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibuatlah sebuah prasasti pada 31 Agustus 1952 sebagai bentuk penghormatan kepada tujuh orang pemuda tersebut. Awalnya prasasti berbentuk batu itu terletak di halaman belakang Gedung Sate. Kemudian, pada 3 Desember 1970, prasasti tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate. Posisinya tepat berada sejajar dengan pintu masuk Gedung Sate dengan dikelilingi taman dan air mancur.

Gedung Sate sering dikaitkan dengan misteri dan cerita horor karena bangunannya yang besar dan sudah berumur 1 abad. Setidaknya ada 5 misteri yang menjadi perbincangan warga kota Bandung seputar Gedung Sate yaitu lorong rahasia Gedung Sate.  Ada cerita tentang keberadaan sebuah lorong rahasia di bawah tanah yang menghubungkan Gedung Sate dengan Gedung Pakuan. Sosok misterius penghuni Gedung Sate. Sosok kakek botak berjenggot panjang pernah terlihat di dalam bangunan Gedung Sate, namun menghilang dalam sekejap. Pohon angker, pohon besar di halaman belakang Gedung Sate dipercaya ada penghuninya oleh para pedagang di sekitar kawasan Gedung Sate karena pernah ada pedagang yang buang air kecil di pohon ini dan kemudian mengalami gangguan selama 4 hari.

5. Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong didirikan pada sekitar awal abad ke-15. Berdiri tegak di kawasan yang sekarang menjadi Jalan Simongan Raya, Klenteng megah dengan luas mencapai 1000 meter persegi ini menyimpan banyak kisah menarik, salah satu yang paling terkenal ialah kisah persinggahan Laksamana Cheng Ho. Kisah inilah yang kemudian paling sering dituturkan oleh para pemandu wisata di sini.

Laksamana Zheng He (Cheng Ho) terlahir dengan nama Ma San Bao. Itulah mengapa klenteng / tempat petilasan untuk Zheng He menggunakan nama Sam Poo Kong. Dalam dialek Hokkian, Sam Poo Kong atau San Bao Dong (Mandarin) artinya adalah gua San Bao. Asal muasal Klenteng Agung Sam Poo Kong adalah ketika armada Zheng He merapat di pantai Simongan – Semarang karena juru mudinya, Wang Jing Hong sakit keras. Sebuah gua batu dijadikan tempat beristirahat Zheng He dan mengobati Wang Jing Hong. Sementara juru mudinya menyembuhkan diri, Zheng He melanjutkan pelayaran ke Timur untuk menuntaskan misi perdamaian dan perdagangan keramik serta rempah-rempah. Selama di Simongan, Wang memimpin anak buahnya menggarap lahan, membangun rumah dan bergaul dengan penduduk setempat. Lingkungan sekitar gua jadi berkembang dan makmur karena aktivitas dagang maupun pertanian. Demi menghormati pimpinannya, Wang mendirikan patung Zheng He di gua batu tersebut untuk dihormati dan dikenang masyarakat sekitar. Inilah asal muasal dibangunnya Klenteng Sam Poo Kong di Semarang. Wang meninggal pada usia 87 tahun dan dimakamkan di sekitar situ. Sejak itu masyarakat menyebutnya sebagai Makam Kyai Juru Mudi. Ketika gua batu runtuh akibat longsor, masyarakat membangun gua buatan yang letaknya bersebelahan dengan Makam Kyai Juru Mudi. Dalam perjalanannya, Klenteng Agung Sam Poo Kong sudah beberapa kali menjalani pemugaran. Selain karena situasi politik yang tidak menentu pasca kemerdekaan, banjir merupakan masalah utama yang dihadapi Klenteng Agung Sam Poo Kong. Revitalisasi besar-besaran dilakukan oleh Yayasan Sam Poo Kong pada Januari 2002. Pemugaran selesai pada Agustus 2005, bersamaan dengan perayaan 600 tahun kedatangan Laksamana Zheng He di pulau Jawa. Peresmian dihadiri oleh Menteri Perdagangan Indonesia – Mari Elka Pangestu datang ke Klenteng Agung Sam Poo Kong dan Gubernur Jawa Tengah – H. Mardiyanto.

Ada berbagai fakta menarik yang ada di Klenteng Samp Po Kong di antaranya :

  • Klenteng Sam Poo Kong merupakan bangunan bersejarah megah yang menyimpan unsur islam dalam kebudayaan Tiongkok
  • Laksamana Cheng Ho seorang pelaut handal yang berlayar mengunjungi berbagai negara sebagai duat perdamaian
  • Awalnya, Laksamana Cheng Ho mendarat di pantai utara Jawa (Semarang) untuk mendirikan masjid, bukan klenteng
  • Di dalam Sam Poo Kong terdapat jangkar kapal Cheng Ho yang dikeramatkan yang diberi nama Kiai Djangkar
  • Lalu, di sebelah petilasan Kiai Djangkar berdiri makam Kiai Tumpeng
  • Uniknya, terdapat pohon rantai yang berusia 611 tahun
  • Edufriends bisa tahu kisah Laksamana Cheng Ho dari relief yang terpahat di area klenteng

6. Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal merupakan sebuah bangunan yang memiliki berbagai nilai penting bagi kesejarahan bagi bangsa Indonesia. Selain nilai sejarah, Masjid Istiqlal merupakan sebuah bangunan bersejarah yang memiliki nilai ilmu pengetahuan, pendidikan, dan keagamaan. Masjid Istiqlal adalah masjid negara Republik Indonesia yang terletak di pusat ibukota Jakarta. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Rencana pembangunan Masjid Istiqlal juga datang dari keinginan para pemuka agama agar umat Islam memiliki pusat tempat ibadah di ibu kota. Sekitar tahun 1944, beberapa ulama dan tokoh-tokoh Islam berkumpul di kediaman Sukarno di Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi) untuk meminta izin mendirikan Masjid Agung di Jakarta. Usulan itu disambut baik oleh Sukarno tapi masih sangat sulit dilaksanakan mengingat Jepang masih berkuasa di Indonesia. Pada awal 1950-an, keinginan itu timbul kembali. Atas prakarsa Menteri Agama Wahid Hasyim dan Anwar Tjokroaminoto dari Sarekat Islam, lebih dari 200 orang tokoh-tokoh Islam berkumpul di Gedung Pertemuan Umum Deca Park, Medan Merdeka Utara. Pada 1954, mereka berhasil membentuk suatu susunan pengurus Yayasan Masjid Istiqlal dengan Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua pertama.

Kemudian, pada tahun 1955, Presiden Soekarno mengadakan sayembara untuk mencari desain masjid ini. Dari 30 peserta, disaringlah hingga menjadi lima finalis. Akhirnya pada Juli 1955, dewan juri menetapkan Friedrich Silaban sebagai pemenang yang berhak menggunakan desainnya untuk jadi desain Masjid Istiqlal. “Uniknya, Friedrich ini adalah seorang Kristen Protestan. Tapi dia berhasil menang dengan tema desainnya yang bertemakan Ketuhanan. Dalam pembangunannya, Friedrich memasukkan banyak simbol-simbol berkaitan dengan Islam dan Indonesia ke dalam desainnya. Salah satunya adalah luas kubah masjid. Kubah Masjid Istiqlal memiliki diameter sekitar 45 meter. Adapun angka 45 ini melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia. Dalam kubah tersebut juga terdapat ukiran ayat kursi yang melingkari kubah. “Masjid ini juga ditopang sama 12 tiang. Angka 12 ini melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh di tanggal 12 Rabiul Awwal.

Selain itu, Masjid Istiqlal juga memiliki empat lantai balkon dan satu lantai dasar. Kelima lantai ini melambangkan 5 Rukun Islam, jumlah salat wajib dalam sehari, serta jumlah sila dalam Pancasila. Lalu di bagian luar masjid, terdapat menara yang memiliki tinggi 6.666 sentimeter. Angka ini melambangkan keseluruhan jumlah ayat dalam Al Quran. Masjid Istiqlal hanya memiliki satu menara. Konon menara ini memang hanya ada satu untuk melambangkan tanda keesaan Allah. Di Masjid Istiqlal ini juga terdapat bedug raksasa yang terbuat dari pohon kayu meranti. Bedug raksasa ini berusia sekitar 300 tahun. Ada yang unik di bedug tersebut. Di bagian sisi dari bedug tersebut, terdapat ukiran kaligrafi berbahasa Arab gundul. Namun jika diperhatikan lagi, kaligrafi tersebut menyerupai sosok Semar dalam dunia perwayangan Jawa. Lalu, paviliun kompleks Keraton Yogyakarta dibangun menurut kepercayaan kuno dan masing-masing fitur kompleks seperti halaman hingga pohon memiliki arti simbolis khusus berkaitan dengan filsafat Jawa yang luhur.

7. Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta adalah sebuah kompleks besar yang dirancang dengan teliti sebagai cerminan kosmologi Jawa. Keraton dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I secara bertahap, kemudian selesai pada tahun 1790.  Keraton dibangun menghadap langsung ke arah utara–Gunung Merapi. Sementara di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.

Sebagai sejarah singkat keraton Yogyakarta, tercatat pernah ada sebuah kerajaan Islam yang terletak di bagian tengah agak ke selatan Pulau Jawa bernama Mataram. Kerajaan ini berpusat di Kota Gede yang letakknya berada di sebelah tenggara kota Yogyakarta saat ini. Pusat Kerajaan ini terus berpindah mulai dari Plered, Kartasura hingga Surakarta akibat invervensi Belanda saat itu. Akibat dari itulah, muncul pergerakan anti Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi. Gerakan tersebut berujung pada perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari pada tanggal 13 Februari 1755 atau pada penanggalan jawa yakni pada Kemis Kliwon, 12 Rabingulakir 1680 TJ. Perjanjian tersebut dipelopori oleh Belanda dengan bantuan tokoh lokal Patih Pringgalaya. Dalam sejarah singkat keraton Yogyakarta, perjanjian tersebutlah yang melahirkan Kesultanan Yogyakarta saat ini.

Perjanjian Giyanti menyatakan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin Pangeran Mangkubumi bergelar Hamengku Buwono I. Dalam perjanjian Giyanti tersebut, diatur pula bagaimana kedua kerajaan ini saling membedakan diri mulai dari tata cara berpakaian, adat istiadat, bahasa, gamelan hingga tari-tarian serta hal lainnya. Pembahasan tersebut dilakukan saat pertemuan Sultan Hamengku Buwono I dan Susuhunan Paku Buwono III di Lebak, Jatisari pada 15 Februari 1755 atau dua hari setelah perjanjian Giyanti. Setelah segala urusan pembagian antara kedua Kerajaan tersebut usai melalui Perjanjian Giyanti, kemudian pada tanggal 13 Maret 1755 atau Kemis Pon, 29 Jumadilawal 1680 TJ, proklamasi atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat disampaikan kepada warga oleh Sultan Hamengku Buwono I. Sejak saat itulah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat berdiri hingga kini.

Fakta unik yang ada di Keraton Yogyakarta yaitu Keraton Yogyakarta  menyimpan 23 kereta kencana milik Kesultanan Yogyakarta.  Lokasi kereta kencana itu ada di museum Kareta Keraton Ngayogyakarta. Puluhan kerata kuda yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta tersebut memiliki beragam kegunaan dan memiliki nama yang berbeda-beda pula. Uniknya, beberapa kereta yang ada di museum ini masih digunakan dalam upacara-upacara kebesaran keraton. Beberapa acara tersebut seperti upacara penobatan Sultan, pernikahan putra Sultan, atau mengantar jenazah sultan ke tempat peristirahatan terakhir. Beberapa koleksi museum yang cukup menarik di antaranya adalah Kereta Kanjeng Nyai Jimad. Kereta kuda tersebut merupakan pusaka Keraton, buatan Belanda pada tahun 1750. Kereta ini adalah hadiah dari Raja Spanyol yang saat itu sudah memiliki hubungan dagang dengan pihak Kesultanan Yogyakarta.

8. Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang terletak di Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Kec. Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30111, tak jauh dari Plaza Benteng Kuto Besak, di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Masjid ini mulai didirikan ketika Palembang dibawah pimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, tepatnya pada tahun 1738. Masjid dengan satu menara ini dipercaya menjadi salah satu tempat ibadah terbesar yang pernah ada pada zamannya. Meski dirancang oleh arsitek Eropa, namun sang arsitek membubuhi dengan sedikit sentuhan ornamen Cina pada wajah masjid. Hal tersebut dapat kita lihat dari lengkungan limas dan hiasan ornamen dari Cina pada sejumlah bangunan atapnya. Perpaduan dua budaya ini menjadi ciri khas Masjid Agung Palembang dan menarik perhatian banyak wisatawan terkagum-kagum. Akulturasi dan perpaduan ini saling berdampingan dan tetap melengkapi satu sama lain.

9. Tongkonan

Selain bangunan peninggalan kolonial, Indonesia juga memiliki sejumlah rumah adat dengan bentuk atau desain yang unik. Bangunan ini memang bukan karya seorang arsitek era modern yang menguasai segudang teori. Melainkan kreasi sekelompok manusia yang masih mencintai serta menjunjung tinggi adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya. Tongkonan, rumah adat masyarakat Tana Torja di Sulawesi Selatan, adalah salah satunya. Tongkonan memang memiliki ciri khas tersendiri dibanding rumah adat lainnya. Rumah ini berupa rumah panggung dari kayu. Atapnya yang terbuat dari susunan bambu yang dilapisi ijuk hitam serta bentuknya yang melengkung seperti perahu telungkup, membuat rumah ini mirip dengan Rumah Gadang, rumah adat masyarakat Minang atau Batak. Dinding rumah yang terbuat dari kayu, juga diukir dengan aneka ukiran khas Toraja. Ciri lain yang paling menonjol pada Tongkonan adalah kepala kerbau beserta tanduknya yang meliuk indah yang disusun pada sebuah bang utama di depan setiap rumah. Jumlah kepala kerbau yang ada di setiap rumah bisa berbeda. Semakin banyak “hiasan” ini di sana, maka semakin tinggi derajat keluarga yang tinggal di dalamnya. Karenanya. Tongkonan juga menjadi salah satu daya tarik wisata Tator dan banyak diminati para pecinta foto.

10. Benteng Rotterdam

Tempat wisata sejarah di Indonesia  adalah Benteng Rotterdam yang terletak di Kota Makassar tepatnya di Jl. Ujung Pandang, Bulo Gading, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90171. Benteng Rotterdam selalu menempati posisi teratas bersama Pantai Losari sebagai destinasi wisata andalan di Makassar. Benteng yang pertama kali dibangun oleh Kerjaan Gowa-Tallo ini berbentuk seperti seekor penyu atau kura-kura. Binatang ini dipilih karena mampu hidup di dua alam yang menggambarkan bahwa Kerajaan Gowa-Tallo pada masa itu berjaya di darat dan lautan. Sebelum beralih tangan ke Belanda, benteng ini bernama Benteng Ujungpandang. Berada di bawah kekuasaan Belanda, Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam ini dahulu digunakan sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah hasil rampasan dari Indonesia bagian timur. Saat ini, Benteng Rotterdam menjadi tempat wisata sejarah andalan kota Makassar. Di dalamnya terdapat museum La Galigo yang berisi koleksi benda-benda peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Menariknya lagi, di sini terdapat sebuah ruangan yang dipercaya sebagai tempat pengasingan Pangeran Diponegoro di masa perjuangan dahulu. Wisata sejarah adalah alternatif terbaik untuk Edufriends mengisi hari-hari liburan panjang bersama teman atau anggota keluarga.

Itulah 10 bangunan bersejarah di Indonesia yang wajib Edufriends kunjungi! Selain arsitekturnya yang menarik perhatian, bangunan tersebut memiliki makna sejarah yang melekat. Masih banyak lagi bangunan-bangunan bersejarah di Indonesia yang bisa kamu jadikan tujuan untuk berwisata. Nantikan di artikel bagian keduanya ya!

 

Stella